Rabu, 28 September 2011

Perlunya Sishankamrata dalam Upaya Bela Negara

Globalisasi yang akrab dilatarbelakangi oleh aspek ekonomi telah membawa perubahan tentang cara dan tujuan perang, cara/tujuan suatu negara dalam menguasai atau menaklukkan negara lain. Semula untuk penguasaan teritori yang kadangkala berlatar belakang ideologi, telah berubah menjadi penguasaan ekonomi (sumber daya). Cara perangpun lebih banyak dilakukan dengan cara non militer dan menyangkut banyak aspek yang lebih efisien.
Globalisasi yang akrab dilatarbelakangi oleh aspek ekonomi telah membawa perubahan tentang cara dan tujuan perang, cara/tujuan suatu negara dalam menguasai atau menaklukkan negara lain. Semula untuk penguasaan teritori yang kadangkala berlatar belakang ideologi, telah berubah menjadi penguasaan ekonomi (sumber daya). Cara perangpun lebih banyak dilakukan dengan cara non militer dan menyangkut banyak aspek yang lebih efisien.
 Namun demikian spektrum dan kom-pleksitas ancaman telah jauh melebar dan bersifat multidimensional. oleh karenanya sishankamrata adalah jawaban yang tepat, karena hakekatnya sishankam-rata adalah pengerahan total seluruh potensi bangsa, tidak hanya militer melainkan potensi lain menyangkut ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya, hukum, informasi, diplomasi dan lainnya dalam upaya bela negara. landasannya adalah nasionalisme-patriotisme, yaitu kesa-daran bela negara yang kuat, tangguh dan sikap pantang menyerah.
 Namun demikian, dalam perkembangan kekinian terdapat banyak masalah menyangkut, sishankamrata tidak saja mengenai implementasinya tetapi juga termasuk pembiasan filosofi dan makna sishankamrata. kalau hal ini dibiarkan, maka dalam waktu yang tidak terlalu lama niscaya akan melemahkan sendi-sendi upaya pembelaan negara, membuat limbung sistem pertahanan-keamanan, mengikis kedaulatan bangsa dan negara, sehingga dapat berujung pada perpecahan bangsa.
 Beberapa hal yang dapat berpengaruh terhadap pembelaan negara seperti : interpretasi  keliru mengatakan “dalam sishankamrata, rakyat dijadikan tameng hidup” (kombatan),
secara negatif, berimplikasi pada perumusan dan perubahan undang-undang. terjadi penyeder-hanaan pengertian dalam konteks pemahaman bela negara.
 Dalam uud 1945 (asli) pasal 30 ayat (1) menyebutkan “tiap-tiap warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam usaha pembelaan negara”, tetapi dalam uud 2002 (hasil perubahan)               menjadi : “tiap - tiap warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam usaha  pertahanan-keamanan”, ini jelas menyempitkan makna bela negara yaitu hanya pada aspek pertahanan-keamanan.
 Disamping itu dalam uu no. 3 tahun 2002 tentang per-tahanan negara, istilah sishankamrata diganti menjadi sishanta, ini berarti terjadi pembelokan dan pembiasan filosofi dan makna fundamental dari sishankamrata.
 Dalam sishankamrata seluruh rakyat sesuai dengan kemampuan, kekuatan, potensi, profesi atau latar belakang keahliannya, dapat digunakan untuk kepentingan pertahanan guna mendukung implementasi sishankamrata.
 Tentang konsep “keamanan nasional”, hal ini harus ditangani secara arif dan cerdas. pemilahan secara tajam, mutlak dan dikotomis antara pertahanan dan keamanan dapat mengabaikan adanya overlapping atau gray area antara lingkup tugas polri dan tni. padahal bila kita cerdas dan arif memahami sejarah bangsa dan negara kesatuan republik indonesia dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan, maka niscaya polri dan tni dapat didayagunakan secara optimal, hingga dapat menangkal setiap ancaman, tanpa hambatan psikologis.
 Berikutnya, pada era perang masa kini, kekuatan senjata (hard power), telah digantikan oleh senjata “informasi” untuk membangun persepsi dan kekuatan finansial (modal) untuk menguasai ekonomi.
 Lembaga swadaya masyarakat (lsm) dan perusahaan multi nasional (mnc) serta para elite politik dan lsm dalam negeri yang terpengaruh sebagai kepanjangan tangan “mereka” adalah tentara baru bagi penakluk sistem perekonomian dan sistem politik yang pada gilirannya “konstitusi dan nilai-nilai” negara sasaranpun dirubahnya. tanpa disadari, sebenarnya saat ini bangsa indonesia sedang terlibat dalam suatu peperangan dan ada dalam kondisi terkalahkan. terpinggirkan-nya nilai-nilai luhur bangsa seperti kekeluargaan, gotong royong, toleransi, musyawarah mufakat diganti dengan individualisme, kebebasan tanpa batas, pasar bebas, one man one vote, sistem politik yang “ultra liberal” adalah pertanda bahwa bangsa indonesia dengan falsafah, ideologi pancasila telah tersisihkan.
 Sekali lagi ditegaskan, “ancaman lebih pada aspek non militer”, karenanya kita harus menajamkan perhatian pada aspek ini. dan bila ancaman ini terus berlangsung akan melemahkan ketahanan nasional dan kekuatan pertahanan kita, yang bermula dari melemahnya semangat bela negara, patriotisme serta semangat pengabdian terhadap kepentingan bangsa dan negara    indonesia.
 Menghadapi situasi yang demikian ini, maka segenap komponen bangsa harus merespon positif dan bersifat segera guna mencari formula yang tepat.
 Sebagai salah satu komponen strategis bangsa yang berjiwa nasionalis, berwawasan kebangsaan indonesia, para alumni resimen mahasiswa indonesia harus mengambil peran pada garda terdepan dalam upaya kekuatan nasionalisme-patriotisme serta pening-katan kesadaran bela negara. dalam kaitan ini sebagai motivator dan dinamisator, para alumni resimen mahasiswa indonesia dapat ikut serta mendorong dan mendukung :
 1. Mengembalikan makna filosofi sishan-kamrata. pengelolaan yang benar dan arif atas seluruh aspek kehidupan bangsa, aspek demografis dan geografis yang sangat heterogen itu, niscaya akan menghasilkan kekuatan pertahanan yang mampu memancarkan “daya tangkal” yang ampuh untuk menghadapi setiap ancaman.
 2. Berupaya mendorong pelurusan kembali (revisi dan reorientasi) perundang-undangan, uud yang keluar dari spirit mukadimahnya, menimbulkan distorsi dalam beberapa pasal baik dalam uud sendiri maupun dalam uu penja-barannya. karena itu perlu upaya pelurusan kembali agar tidak terjadi proses implementasi sishankamrata yang justru keluar dari makna hakikinya.
 3. Memberi pencerahan tentang upaya bela negara. sebagai sosok yang sempat mengenyam pendidikan tinggi dan berkesempatan ikut latsarmil serta pernah ikut mengusir kaum penjajah (c.m.-corps mahasiswa 45, tp-tentara pelajar, dll), tentu peduli dan berkemampuan untuk menularkan pemikiran dan pengalamannya pada lingkungan sekelilingnya dimanapun alumni resimen mahasiswa indonesia berada.
 4. Penguatan patriotisme-nasio-nalisme akan kesadaran berbangsa-bernegara dan bela negara. kedua hal ini merupakan syarat mutlak bagi implementasi sishankamrata. upaya ini harus diterapkan kepada seluruh rakyat indonesia sejak usia dini lewat proses pendidikan formal maupun non formal. dengan pengalaman, kemampuan dan keberadaan ditugas masing-masing tentu alumni mahasiswa dapat berperan dibidang ini.
 5. Pembangunan ekonomi nasional dan industri pertahanan. perekonomian nasional yang kuat adalah penopang dari kekuatan pertahanan, sebaliknya sekuat apapun kekuatan-pertahanan akan rontok manakala tidak ditunjang perekonomian yang kuat. karenanya perlu segera ada upaya membebaskan diri dari ketergantungan pada bangsa dan negara lain. kemandirian bangsa dalam pengelolaan aset strategis dan sumber daya alam bangsa harus ditegakkan kembali. tanpa kemandirian, amat sulit bagi bangsa indonesia memiliki daya tahan terhadap gejolak dari luar, apalagi menghadapi ancaman-ancaman yang sifatnya sudah multidimensional.
 Spektrum ancaman yang demikian luas, mengharuskan kita dalam memahami arti pengertian bela negara sebagai membela kepentingan nasional, bukan sekedar bela negara dalam konteks pertahanan militer.
 Dengan demikian semua warga negara wajib ikut serta dalam peperangan melawan ancaman yang membahayakan, integritas nkri. ancaman yang membahayakan identitas kelangsungan hidup bangsa serta ancaman yang membahayakan pencapaian tujuan nasional.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar